August 14, 2011 S. Kom

buat ente-ente yang bangga dengan gelar S.Kom, jangan bangga dahulu, karena gelar ini tidak berarti apa-apa bagi sebagian orang, atau bahkan ada yang tidak tahu apa itu gelar sebenarnya. nggak percaya silakan lanjutkan saja membacanya.

dikampung se RT saya, jumlah orang yang mendapat gelar sarjana cuma ada 4 orang doang, guru saya, teman sebelah rumah, istrinya saudara ipar, dan Sebentar lagi saya, anehnya tidak satupun dari mereka yang (3 orang tadi) yang mencantumkan gelar baik dibelakang atau didepan namanya. selama ini hanya ditulis namanya biasa.

setelah sekian lama penasaran, saya akhirnya menemukan penyebabnya, mungkin juga karena hal ini yang membuat tidak satupun dari mereka mencantumkan gelar pada nama mereka, dalam hal apapun.

karena bentar lagi saya mau wisuda dengan gelar S. Kom, teman sebelah rumah ngeledhek saya dengan sebutan mas S.Kom. ya niatnya sih cuma guyonan aja, tapi gak taunya eh nyebar sekampung gara-gara ada anak kecil yang ikut-ikutan manggil begitu. nah yang bikin ana ketawa sekaligus miris plus mangkel juga adalah ketika saya mendapatkan undangan yang baru saja saya terima, undangan mengajak saya untuk ikut serta dalam kegiatan warga. halaman depan amplopnya itulho yang bikin saya ngelus dada. dan mungkin ini penyebab kenapa orang kampung saya yang sarjana tidak mencantumkan gelarnya, Kenapa ? Cekibrot sendiri deh, nih gambarnya dibawah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

kelihatan ndak, okedeh aku perjelas. pengundang menulis Nurul Huda S. Kom dengan Nurul Huda Es Kom. sepertinya yg nulis ini menganggap bahwa S.Kom iitu cuma julukan atau olokan biasa, sejenis Mang Ali Botol (padahal nama sebenarnya Alimuddin) atau sejenis Mad Wak ik (padahal nama sebenarnya Muhammad Wahid). di desa saya, nulis nama kayak begitu di surat undangan, sudah dianggap biasa, itu masih untung nama “Nurul Huda” ditulis bener dan masih ditulis ES KOM bukan ES KOPYOR atau ES CENDOL. mungkin ini penyebab kenapa g ada yg mau pake gelar. udah jelas pemirsa, nggak tahu ini siapa yang nulis, sepertinya sih tetangga sebelah, yang orangnya udah tua. ana heran, lha terus yang muda-muda ini pada kemana, masak yang nulis gini aja sampe kakek-kakek, yang matanya mungkin udah rabun dan nulisnya udah gak bener.

untuk itu saya menghimbau kepada segenap warga, gak usahlah panggil-panggil gelar malah jadi aneh, mendhing tulis aja Nurul Huda, wong bapaku waktu bikin nama Nurul Huda itu habis uang banyak, buat ngurus Aqiqah, buat Syukuran, Buat Akta, tuh udah banyak. g usah diubah-ubah kayak begitu. biarlah gelar S.Kom hanya tercantum di Ijazah ITS saya nanti. toh nantinya nama di batu Nisan saya juga ditulis seperti gambar disamping ya toh… :). lagian si abang mungkar sama mbah nakir juga g bakalan nanya gelar dan saya menghimbau bagi semua pihak yang mau cari istri di desa saya, g usah bawa-bawa gelar. di sini gak laku, yang penting itu punya sawah luas, sapi dan kambing yang banyak, kebun yang rimbun dan jangan lupa, siapkan buat Bonyoknya, kalo bonyoknya OK, anaknya pasti OK, gak peduli muke lu kayak Tukul atau kayak Sule. betul 3x….

Comments

total comments