July 8, 2017 thumb Menggunakan KDevelop

beberapa waktu yang lalu saya sempat menulis tentang Code Lite sebuah IDE yang bisa berjalan pada platform linux , ringan tetapi memiliki kemampuan autocomplete yang baik. setelah beberapa saat saya mencoba, Code Lite memiliki beberapa kelemahan, seperti tidak dapat melakukan copy paste sebuah file. tidak dapat melakukan move file dan lain sebagainya. pada IDE seperti Eclipse hal ini bisa dilakukan dengan baik, tetapi Eclipse yang ditulis menggunakan Java , membuatnya cukup berat untuk dijalankan pada Intel NUC milik saya. setelah kesana-kemari, akhirnya saya mencoba menggunakan KDevelop, sebagai solusi dari kelemahan Code Lite tetapi tidak seberat Eclipse.

Dukungan Project yang beragam, bisa ditambahkan sendiri jika ingin menggunakan bahasa pemrograman yang lain.

Dukungan Project yang beragam, bisa ditambahkan sendiri jika ingin menggunakan bahasa pemrograman yang lain.

sama dengan Code Lite dan Eclipse , KDevelop juga mendukung subversion, hal ini tentu memudahkan para programmer yang memang ingin menggunakan KDevelop sebagai version control. bentuk alat version control yang digunakan pun mendukung Subversion, CVS dan Git.

Dukungan Tool Version Control yang cukup lengkap

Dukungan Tool Version Control yang cukup lengkap

selain itu KDevelop juga menampilkan seluruh class yang ada dalam project beserta parent class-nya sehingga kita bisa dengan mudah mencari manual dari class yang sedang kita gunakan.  tentu hal ini sangat membantu jika kebetulan kita bekerja pada lingkungan framework yang memiliki banyak class didalamnya. tidak hanya class saja yang di data, function yang memang didefinisikan dalam satu project pun akan ikut serta ter-indeks di dalamnya.

Filtering Class yang Hebat

Filtering Class yang Hebat

terakhir yang paling saya sukai adalah kemampuan autocomplete yang sama sekali tidak memakan resource. berbeda dengan Eclipse yang hampir memakan seluruh resource komputer saya, system Autocomplete yang ada pada KDevelop bisa dikatakan sangat ringan, tetapi lebih powerfull dari Code Lite. kenapa saya katakan lebih powerfull daripada Code Lite, kelemahan Code Lite, memang code lite lebih ringan daripada KDevelop, tetapi dalam satu project , yang mana terdapat class yang sama (padahal dari workspace yang berbeda) Code Lite tidak bisa membedakan hal ini, sehingga ketika saya membuat Class taruhlah Adapter pada project syamrabu, yang terbuka justru Class Adapter pada project kaliwates (karena K lebih dahulu daripada S dalam urutan alfabet, Code Lite), padahal walaupun nama class-nya sama, tetapi kedua class ini adalah berbeda. hal ini tidak terjadi pada KDevelop, ia cukup cerdas hanya membuka dan memprioritaskan yang satu Workspace (kurang tahu kalau ternyata dalam Code Lite ada setup untuk itu, karena class yang diutamakan adalah yang nama workspace-nya terlebih dahulu secara alfabet).

Auto complete yang ringan.

Auto complete yang ringan.

okelah mungkin ini yang bisa saya sharing, mungkin setelah 1 atau 2 bulan pemakaian saya bisa share lagi untuk pengalama saya dengan IDE ini, sampai jumpa pada tulisan berikutnya, Okey Donkey, Salam Goblooge.

Comments

total comments