May 2, 2018 thumb Mencoba Lubuntu 18.04

tanggal 26 April 2018 kemarin Ubuntu 18.04 LTS telah resmi rilis, saya pribadi termasuk pengguna yang tidak begitu fans atau ubuntu antusias, tetapi saya selalu memakai ubuntu LTS sebagai default operating system milik saya. kenapa LTS karena LTS memiliki dukungan sampai 5 tahun dan setiap 2 tahun release baru, sehingga saya tidak perlu sering-sering install ulang. (ubuntu selalu rilis setiap 6 bulan, kalau ngikuti terus bisa – bisa jebhol harddisk karena sering format).

nah pengalaman saya melakukan upgrade dari kubuntu 16.04 LTS ke ubuntu 18.04 LTS menghasilkan system error yang bahkan tidak bisa masuk ke Login Screen, ketika saja jalankan startx, yang ada malah restart. frustasi dengan hal seperti ini, akhirnya harddisk saya format ulang juga.

setelah format ulang, sana sini, saya masih menemukan kesulitan dalam instalasi, karena masalah UEFI dan Legacy, yang intinya Intel NUC DN2820FYKH milik saya tampilan biosnya memang cakep, tapi settings biosnya bikin kepala pusing sampai harus restart berkali-kali.

terakhir yang bikin saya frustasi adalah ketika berhasil Install Ubuntu 18.04, niat hati ingin menikmati user interface yang indah nan elok, apa daya spec PC tak sampai. komputer saya njeblus alias sering restart atau bahkan macet tak bergerak. wal hasil saya download lagi versi Lubuntu 18.04 LTS.

tentu sedikit kuciwa diri ini, tapi setelah selesai instalasi Lubuntu 18.04 sedikit rasa kecewa saya terobati, ternyata Lubuntu sudah memiliki tampilan yang lebih bagus dibandingkan pendahulunya. fitur-fitur yang kuno di Lubuntu, sekarang sudah diperbaiki.

secara tampilan lubuntu 18.04 memiliki banyak upgrade, penggunaan icon yang seragam, PCManFM yang bisa menampilkan multitab dan dukungan multimedia yang lengkap tapi ringan (lighweight) saya rasa menjadi nilai plus untuk lubuntu. sejujurnya saya paling suka dengan icon default-nya yang nge-blend banget dengan keseluruhan UX system, berbeda dengan jaman dulu yang icon-nya dibuat acak adhul yang penting jalan.

Office dalam lubuntu 18.04 menggunakan Abiword dan Gnumeric. saya masih ingat waktu saya memakai Gnumeric dan Abiword pada ubuntu 16.04, tidak bisa membaca file docx dan xlsx. tentu ini bikin saya jengah karena kebanyakan file sekarang ya dua itu yang dipakai, tetapi update yang sekarang abiword dan gnumeric dengan mudah bisa membaca berbagai macam file milik kakanda microsoft. mendukung pula file .odt milik open office, dan open format serta kword.

lihat window kana atas, ia memiliki model tombol close yang berbeda dari yang lainya, karena menggunakan gnome.

lihat window kana atas, ia memiliki model tombol close yang berbeda dari yang lainya, karena menggunakan gnome.

satu-satunya yang tidak saya sukai dari sistem Lubuntu 18.04 karena masih adanya campur aduk dengan gnome, tentu hal ini membuat system menjadi berat ketika dijalankan, setelah saya coba cek dependensinya ternyata paket gnome-mpv masih menjadi base system dari lubuntu. tentu dengan adanya gnome-mpv ini membuat setidaknya beberapa hal menjadi seikit lelet ketika ada software yang dependen ke gnome dijalankan (dalam percobaan saya, kondisi stable aplikasi non gnome RAM sampai pada 600 MB, sekalinya gnome-library di load, bisa sampai 1 GB). ada beberapa aplikasi yang masih depend ke gnome, yakni ‘software’ semacam software center, gnome-keyring, gnome-disk-utility, dan gnome-system-tools . tampak sekali masih memakai gnome , karena window manager-nya tidak mengikuti default seperti yang lain. penggunaan RAM baru bisa turun lagi setelah di kill menggunakan terminal.

terdapat beberapa library gnome yang berjalan, ini mendakan bahwa ada beberapa aplikasi yang depend ke gnome. sehingga mau tidak mau harus me load gnome-software dan beberapa library gnme yang mana bisa membuat penggunaan RAM naik drastis.

terdapat beberapa library gnome yang berjalan, ini mendakan bahwa ada beberapa aplikasi yang depend ke gnome. sehingga mau tidak mau harus me load gnome-software dan beberapa library gnme yang mana bisa membuat penggunaan RAM naik drastis.

kesimpulan akhir saya , Lubuntu 18.04 LTS sudah cukup bagi saya untuk menjalankan berbagai aktivitas kerja, sehingga saya pun telah me-remove lengkap Windows 10 yang dulu ter-install di PC saya. terlepas dari adanya beberapa aplikasi yang masih tergantung pada gnome, bagi saya yang meiliki RAM 4GB tentu sudah cukup lega untuk menjalankan aplikasi programming karena luuntu sendiri hanya mengconsume < 400 MB saat kondisi idle tanpa ada aplikasi apapun (kecuali panel dan beberapa network apps seperti bluetooth, wifi dan sound), sehingga dengan ini saya masih memiliki sekitar 3 GB lebih untuk kebutuhan programming.

sehingga, bagi yang sekiranya RAM-nya sudah mau tewas akbat Ubuntu 18.04 bisa menggunakan Lubuntu sebagai alternatif, karena memang perkembangan jaman, semakin hari semua aplikasi semakin gila resource dan RAM 4GB sudah bukan barang mewah lagi. oke untuk model customize Lubuntu 18.04 saya akan share pada tulisan berikutnya. Salam goblooge.

Comments

total comments