August 17, 2011 thumb Kakek Vs Pemuda

ini adalah kisah perbincangan seorang pemuda dengan seorang kakek bekas pejuang. Pejuang tanpa tanda jasa yang berpuluh tahun lalu berjuang memperjuangan kemerdekaan dan menjaganya, usia sang kakek saat ini sudah hampir 100 tahun, tapi ingatanya masih bagus. Berikut adalah perbincangan kakek (K) dan pemuda(P). perbincangan berlangsung saat si pemuda sedang jalan-jalan dan nongkrong di warung kopi (tapi nggak pake ngopi, lagi puasa ye) sambil main catur dengan sang kakek.

K : Kamu anak kuliahan.

P : ya

K : Sudah semester Berapa ?

P : bentar lagi lulus, bulan depan wisuda.

K : hm.. pesanku satu anak muda, jadilah orang yang dibutuhkan di desa ini.

P : ah kakek bisa saja, saya bukanlah orang luar biasa.

K :  lalu siapa yang bilang bahwa desa ini membutuhkan orang yang luar biasa ? bahkan negara ini tidak membutuh orang yang luar biasa.

P : hahaha… bukankah seorang pemimpin yang baik, itu harus bertindak luar biasa bagi rakyatnya. Misalnya Ir. Soekarno.

K : (kakek itu tersenyum lebar). Soekarno bukan apa-apa tanpa rakyatnya. menurutmu mana yang lebih luar biasa, Soekarno, ataukah mereka yang berbaring membusuk karena peluru-peluru musuh.

P : tapi bukankah pemimpin yang baik, akan membawa rakyatnya menuju ke perbaikan.

K : Tidak, sebaik apapun pemimpinya, jika rakyatnya busuk, akan tetap busuk, pemimpin tidak sanggup berdiri sendiri ia membutuhkan pendamping, walaupun harus kuakui, Negara tanpa pemimpin itu jauh lebih buruk dari Negara dengan pemimpin yang sadis sekalipun.

P : kalau begitu, seperti apa orang yag dibutuhkan di desa ini.

K : yaitu pemuda yang tidak seperti banci-banci yang mengandalkan bapaknya itu, yang ketika ada masalah merengek pada orang tuanya. hadapi masalahmu sendiri dengan caramu sendiri, walaupun harus jatiuh bangun berkali-kali. Ingat baik-baik, seburuk-buruk generasi bukanlah generasi yang menangis dihadapan tuhan dan memohon pertolonga-Nya, tapi seburuk-buruk generasi penerus adalah generasi yang ketika ada masalah, dengan bangga membentak-bentak orang tuanya untuk mengatasi masalah tersebut. mereka itu, sudah tidak bermoral, orang tua sendiri dijadikan budak, dan bodohnya lagi orang tuanyamau dibodohi seperti itu.

P : hahaha…siapa pemuda itu ?

K : bukankah sebagian besar dari kalian banyak yang seperti itu. mereka menggerutu jika uang jajan kurang, dan mereka merengek ketika motor sudah ketinggalan jaman. Ingat nak,  jadilah pemuda yang mandiri dan bersiaplah untuk berperang.

P : berperang, bukankah perang sudah selesai.

K : hahaha…tidak anak muda, perang kami  sudah selesai tapi perangmu baru saja dimulai, bahkan perangmu jauh lebih berat dari pada perang kami.

P : kenapa bisa lebih berat ?

K : dulu kami berperang melawan penjajah, setiap penjajah  bisa dengan mudah dibedakan, mereka yang tidak bisa berbicara B. indonesia, mereka yang kuliatnya putih, mereka yang albino, itu lah musuh  kami tinggal tembak dor, selesai. Sedang musuhmu  bangsamu sendiri,  sama-sama berbahasa Indonesia, sama-sama keturunan jawa.

P : aku tahu maksud kakek, musuh kita sekarang adalah para pemimpin kita itu kan!, lalu bagaimana kita melawan, kami para pemuda tak punya senjata apapun.

K : tidak, kau punya senjata, bahkan senjatamu jauh lebih baik daripada kami. Teknologi dan informasi, itulah senjata kalian.

P : hahaha… bukankah sekarang teknologi dan informasi semuanya sudah dikuasai para pemimpin kita.

K : siapa yang menyuruhmu untuk melawan orang perut buncit itu, kau bukan musuh sepadan dengan mereka. Carilah musuh yang sepadan denganmu.

P : maksud kakek ?

K : kamu jurusan apa ?

P : Komputer.

K : maka musuhmu adalah orang-orang komputer, yang mereka menggunakan kemampuan mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak benar. Atau mereka yang menggunakan kemampuan komputernya untuk membodohi orang lain.

P : maksud kakek ?

K : lawanmu adalah mereka yang ada di desa ini, mereka para pemilik warnet yang memperjual belikan lagu bajakan, menjual VCD bajakan, atau apa itu namanya, sop wer (software) bajakan. Ingat nak, jika kau mau memperbaiki Negara, maka perbaikilah tiap-tiap provinsinya dahulu, jika ingin memperbaiki provinsinya, maka perbaiki tiap-tiap kabupatenya dahulu, jika ingin memperbaiki kabupaten, maka perbaiki tiap-tiap desanya, jika ingin meperbaiki desanya, maka perbaiki tiap-tiap keluarga dari desa itu. mulailah dari dirimu sendiri, lalu keluargamu, kemudian tetanggamu hingga akhirnya negaramu.

P : hahaha…(tersenyum kecut)

K : dan lagi anak muda, banggalah dengan bangsamu sendiri, saat ini banyak pemuda yang tidak bangga dan tahu tentang bangsanya sendiri. terutama sejarah, parahnya tidak ada seorangpun yang memberikan pelajaran sejarah dengan benar, padahal sejarah itu sangat penting bagi generasi penerus. sayang generasimu tidak ada yang meneruskan.

P : maksud kakek ? bukankah saat ini banyak lulusan perguruan tinggi yang mereka ahli dalam sejarah.

K : mereka hanya hafal sejarah, tapi tidak mewarisi nilai-nilainya, sama seperti kau anak muda.

P : aku paham tentang sejarah negaraku !

K : hahaha… aku tanya padamu apa isi sila ke lima ?

P : ahahah… keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.

K : lalu apa maknanya ? kenapa ia diletakan di nomor 5 ? kenapa harus ada keadilan sosial ?

P : (tersenyum kecut)… kami tidak diajari tentang hal itu.

K : itulah yang kumaksud, sekarang guru-guru yang baru itu sudah tidak layak disebut guru. mereka hanya hafal, tapi mereka tidak paham. mereka mengajar untuk uang, bukan untuk mendidik anak didiknya. dan ingat mengajar berbeda dengan mendidik, mengajar adalah pelajaranya, mendidik adalah moralnya.

P : (tersenyum kecut)

K : skak mat, kau kalah anak muda… hahaha

 

Demikian perbincangan dengan kakek harus berakhir karena sang pemuda kalah catur, dan kakek tersebut sudah menang 4 kali berturut-turut.

Comments

total comments