November 23, 2017 thumb Hanya karena Pulsa, Nyawa Orang jadi Taruhan  

ini adalah pengalaman saya liburan beberapa hari lalu, ya sekitar 2 minggu lalu sebelum artikel ini ditulis. saya bekerja sebagai seorang programmer dan kebetulan punya client sebuah rumah sakit Pemerintah di daerah madura, disana Sistem Informasi Managemen Rumah Sakit (SIMRS) memakai program yang saya buat.

pas dua minggu yang lalu saya diminta ibu saya pulang, tentu saya harus pulang kampung ke desa, sehingga minta ijin ke atasan untuk cuti 3 hari, saya pun diijinkan dengan syarat tetap komunikasi jalan, karena namanya software, pas lagi ngadat hanya si programmer yang membuat yang paling tahu cara membetulkanya.

saya pun pulang kampung, hari pertama berjalan lancar dan tidak ada masalah. nah pas hari kedua, saya jalan-jalan ke desa sebelah. saya ingin sedikit refreshing ke hutan mangrove yang ada di desa tetangga. hutan mangrove ini tidak dikelola oleh pemerintah, sehingga harus ditempuh jalan kaki karena hanya ada jalan setapak, tapi walaupun hutan mangrove sinyal internet masih dapat HSUPA. sejak subuh saya sudah berangkat, dengan jarak perjalanan sekitar 2 jam jalan kaki. tak lupa saya pun membawa Smartphone untuk foto-foto.

ini foto saya waktu di Hutan Mangrove di desa tetangga.

nah ceritanya pas lagi enak-enaknya foto, tiba-tiba pak bos telepon menghubungi kalau SIMRS yang ada di madura mengalami masalah, yang bikin saya senam jantung adalah diminta untuk segera diatasi karena ada pasien gawat, yang harus dirujuk ke rumah sakit lain, tentu saja untuk dirujuk ke RS lain, harus disertai dokumen hasil pemeriksaan dan menyelesaikan biaya administrasi di rumah sakit asal yang mana dicetak dari program buatan saya.

awalnya sih saya tenang, segera saya nyalakan team viewer di Smartphone saya, saya remote komputer server dan saya analisa permasalahnya, sekitar 2 menit langsung ketemu masalahnya, nah ketika saya mau upload patch untuk software tersebut, ini baru dapat masalah. baru sadar kalau kuota tinggal 20 MB, padahal yang di upload 50 MB, sedang sisa pulsa tinggal 1.350 rupiah.

saat inilah saya panik, mana si bos message terus di whatsapp. untuk membeli pulsa harus jalan kaki selama 1.5 jam ke kampung seberang. hutan Mangrove bro, mana ada jual pulsa, ada satu dua orang juga nyari ikan atau kepiting rajungan buat lauk. sedangkan pasien gawat disuruh nunggu 1.5 jam, bisa tidak tertolong nyawanya. padahal dokumen hasil pemeriksaan itu harus segera dicetak, karena kalau tidak, dirumah sakit tujuan harus periksa ulang, yang mana memakan waktu cukup lama. disitu saya merasa sedih menjadi seorang programmer dan saat itu saya hanya bisa berdo’a memohon kepada Allah yang maha kuasa…

…..لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

sambil berdo’a saya lari menuju konter pulsa terdekat, (yang paling tidak butuh waktu 45 menit kalau lari, itupun kalau saya lari terus tanpa capek). tiba – tiba Allah menolong saya dengan memberi ilham, “Kenapa repot – repot lari, beli pulsa di Traveloka kan bisa, bisa bayar pakai kartu kredit toh, pakai kartu debet pun bisa”

Plong… Alhamdulillah, segera saya buka Traveloka, dan isi pulsa 100.000, dalam waktu kurang dari 1 menit, pulsa sudah ter top up, segera beli paket dan upload patch ke Server. selamat deh, Alhamdulillah ya Allah , untung ada Traveloka, isi pulsa gampang, nggak pakai ngos-ngosan, bisa beli dimana saja. beli pulsa di tengah hutan mangrove pun bisa. dalam hal ini Traveloka sudah menyelamatkan saya, dan nyawa pasien rumah sakit.

pelajaran dari pengalaman ini, kalau mau liburan mendhing siapkan semua bro, pulsa, paket internet, dan tentu yang pasti Traveloka dulu yang harus di install, kita tidak pernah tahu kapan kita dihadapkan dengan masalah. oh iya share juga, selama pakai traveloka belum pernah saya kebobolan baik kartu debit maupun kartu kredit jadi insya Allah aman dan amanah.

Comments

total comments