October 21, 2009 thumb Camera Open Source


kalau software open source, mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga, tapi kalau hardware open source. Mungkin asing, dan memang benar-benar barang asing. Tapi hal inilah yang terjadi. Adalah Andrew Adams dan Marc Levoy, mahasiswa dan Profesor di jurusan ilmu komputer di Stanford menciptakan kamera pertama yang dapat diprogram sehingga memungkinkan sebuah kamera tidak dibatasi lagi oleh software-software bawaan dari vendor kamera tertentu.

Camera tersebut diberi nama frankencamera, dibuat dengan sistem opoerasi linux. Karena sifatnya yang open source, kamera ini bisa diisi sendiri algoritma pemrosesan gambarnya oleh para programmer. Bayangkan jika terdapat ratusan ribu programmer di dunia ini, dan semuanya bekerja secara bersama-sama untuk mengoptimalkan algoritma pemrosesan gambar di kamera tersebut, mungin camera Canon maupun Nikon bisa dikalahkan oleh kamera ini.
Tujuan dari proyek ini adalah untuk membangun kamera berplatform open source sehingga setiap individu di dunia ini bisa berpartisipasi dalam pengembangan kamera, yang tentunya pengembangan di sisi software (algoritma pemrosesan gambar). Sehingga lama-kalamaan akan tercipta sebuah komunitas, dimana user tidak lagi dibatasi oleh software bawaan vendor.
Kamera open source ini sendiri terdiri dari modul kamera ponsel Nokia N95, papan rangkaian elektronik (circuit board), sepasang lensa dari Canon. Dijuluki Frankencamera, karena desainnya yang masih terlihat buruk, karena masih menggunakan bodi kamera yang sudah tidak terpakai.
Secara virtual, seluruh fitur dari kamera, baik fokus, bukaan, kecepatan lensa, lampu kilat, semuanya dikendalikan oleh software yang bisa diprogram oleh pemilik kamera. Tak hanya itu, platform open source juga memungkinkan pengguna kamera dSLR ini melakukan pilihan kustomisasi yang lengkap.
Misalnya saja, mereka bisa melakukan penyetelan teknik high dynamic range (HDR) atau teknik yang mengkombinasikan gambar suatu obyek dari kondisi cahaya yang paling terang, hingga ke yang paling gelap. Di saat yang sama, mereka juga membuat agar kamera video bisa mengabadikan rekaman video beresolusi tinggi.
Dengan sebuah algoritma tertentu, kamera yang hanya memiliki kemampuan. merekam video berkecapatan 30 frame per detik (fps), akan dikombinasikan dengan hasil jepretan gambar kamera still secara periodik, ke dalam frame rekaman video tersebut.
Seperti layaknya sebuah komputer, kamera ini juga dapat terkoneksi dengan internet. Andrew bercita-cita, nantinya program-program yang khusus dibuat untuk kamera ini bisa diakses dan digunakan oleh banyak orang, seperti orang-orang mengakses aplikasi-aplikasi iPhone di App Store.
Dalam tempo setahun kedua peneliti berharap mereka bisa memperkenalkan platform ini dengan biaya minimum kepada semua orang, dengan harga yang terjangkau. Levoy mengharapkan adanya penyandang dana yang memproduksi dalam jumlah besar, dengan harga kurang dari US$1000 atau sekitar Rp 10 juta. Tapi kalau untuk budget Rp. 10 juta bagi orang indonesia kamera ini masih terlalu mahal. Sehingga untuk saat ini lebih baik pakai kamera buatan vendor yang sudah ada saja, dan kita tunggu versi finalnya nanti yang mungkin lebih bersahabat untuk kantong orang indonesia.

Comments

total comments